Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Dualisme Pinggiran Kota

Suara garengpung* sudah mulai terdengar, tanda musim kemarau tiba. Dan rasanya sekarang jadi saat yang tepat untuk membenahi berbagai infrastruktur perkotaan.

Yogyakarta mungkin salah satu kota yang beruntung terkait kesiapan infrastuktur menghadapi hujan. Kota ini memiliki drainase warisan masa kolonial Belanda. Walau dibangun ketika jumlah penduduk masih pada kisaran puluhan ribu, kini saat penduduk sudah menginjak ratusan ribu, drainase produk “baheula” ini ternyata masih ampuh. Ditambah dengan kondisi topografi yang mendukung, kemiringan yang pas dari utara hingga ke selatan dan adanya 3 sungai membelah kota sebgai drainase alami. Sejauh ini hampir tak pernah terdengar banjir melanda Kota Yogyakarta (kecuali banjir di pinggiran sungai Code, Winongo, atau Gajahwong).

Tapi mari kita melangkah ke daerah pinggiran kota dari Yogyakarta. Daerah sekitar Ring Road ataupun ke perumahan-perumahan di kecamatan-kecamatan di Bantul dan Sleman yang berbatasan langsung dengan Yogyakarta. Ketika hujan datang, daerah-daerah ini dengan mudahnya mengalami genangan air yang berlangsung selama beberapa waktu. Belum sepenuhnya bisa disebut banjir tapi bisa saja demikian di waktu yang akan datang.

Pinggiran Ring Road Yogyakarta

Kawasan tepi Ring Road Yogyakarta

Kawasan pinggiran memang serba “nanggung”. Sawah dan kebun yang biasa meresapkan air sudah berkurang tapi dilain pihak, infrastukturnya masih minim dan belum sesiap kota inti. Kadang kemudian sekedar mengandalkan saluran irigasi persawahan yang sekaligus berfungsi ganda sebagai drainase terbuka. Karakter ruang terbangun yang tersebar dan meloncat-loncat (leap frog) menjadikan pembangunan infrastuktur tak bisa efektif dan efisien. Kawasan pinggiran kota telah menyelingkuhi desa, namun tak siap benar menghadapi kota. Kawasan pinggiran pun menjadi lebih rawan terhadap ancaman banjir.

Tentu perlu ada kebijakan jangka panjang tentang alokasi ruang terbangun untuk menghadapi perkembangan kota. Kerjasama antar wilayah juga menjadi kunci utama dalam permasalahan ini. Untuk sementara waktu musim kemarau yang telah dekat ini rasanya perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya.
* Sejenis serangga yang mengeluarkan suara nyaring di musim kemarau

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.